banner 728x250 banner 728x250

Sehat Tanpa Stigma: Tantangan Utama Penanggulangan HIV/AIDS di Pekanbaru

banner 120x600

PEKANBARU – Dibalik hiruk-pikuk kemajuan Kota Pekanbaru yang semakin metropolitan, sebuah perang sunyi terus berkecamuk. Perang melawan virus mematikan, tetapi lebih lagi, melawan prasangka dan ketakutan yang berakar dalam di masyarakat. Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru hingga September 2025 mencatat 310 kasus baru HIV/AIDS, melanjutkan tren peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari sebuah perjalanan panjang dan terjal menuju tujuan yang mulia: Pekanbaru Bebas HIV/AIDS.

Di tengah peningkatan kasus itu, semangat untuk melawan tak pernah padam. Memperingati Hari AIDS Sedunia, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru menggelar serangkaian kegiatan edukasi. Kepala Bidang Program KPA Kota Pekanbaru, Khoirul Basar, menegaskan komitmen lembaganya sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat, dari anak muda hingga ibu hamil.

“Kita meyakini melalui upaya bersama kita akan mampu menahan angka penularan,” ujar Khoirul, penuh keyakinan, Senin (1/12/2025).

Namun, keyakinan institusi harus berhadapan dengan realitas sosial yang keras. Maulin Annisa, akademisi dan peneliti psikologi dari komunitas Ruang Jiwa, membeberkan sisi gelap yang sering luput dari perhatian: pengucilan sosial yang mendera para penyintas atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Bagi para penyintas, pengucilan terjadi di semua lini: keluarga, komunitas, tempat kerja, fasilitas kesehatan, bahkan lingkungan agama,” papar Maulin. Bentuknya beragam, mulai dari penghindaran kontak fisik, pengucilan dari acara keluarga, hingga pelecehan verbal dan diskriminasi oleh tenaga kesehatan.

Dampaknya, menurut Maulin, sangat nyata dan berlapis. Pertama, penurunan akses layanan kesehatan. Banyak ODHA yang menunda atau menghentikan pengobatan karena takut stigma akan memburuk jika statusnya diketahui. Kedua, penarikan diri sosial. Rasa malu dan takut menyebabkan mereka mengurung diri, memicu isolasi yang berujung pada gangguan mental seperti depresi, kecemasan berat, bahkan ide bunuh diri.

Lantas, mengapa stigma terhadap ODHA masih begitu kuat, bahkan di era informasi yang terbuka lebar? Maulin Annisa, dari kacamata psikologi sosial, menjelaskan beberapa mekanisme yang bekerja.

Pertama, labeling atau stigmatisasi. Kata “HIV/AIDS” sendiri telah menjadi label negatif yang langsung dikaitkan dengan penyakit menular mematikan. Label ini memicu stereotip yang merusak.

Kedua, attribution atau pengaitan sebab. Masyarakat cenderung mengaitkan penyebab HIV/AIDS dengan perilaku yang dinilai melanggar norma, seperti seks bebas, hubungan sesama jenis, atau penggunaan narkoba. “Mereka lebih mudah mengucilkan para penyintas karena dianggap ‘salah sendiri’,” ujar Maulin. Padahal, penularan bisa terjadi melalui berbagai cara, termasuk dari ibu ke anak atau transfusi darah yang tidak aman.

Ketiga, konsep in-group dan out-group. ODHA sering ditempatkan sebagai “kelompok luar” (out-group) karena dianggap melanggar norma sosial yang berlaku. Di masyarakat dengan norma moral yang konservatif dan kuat, seperti yang banyak ditemui di Pekanbaru dan daerah sekitarnya, pelanggaran norma ini memperkuat jarak sosial.

Faktor lain yang memperparah, tambah Maulin, adalah jenis kelamin dan lokasi geografis. Perempuan dan penduduk di daerah pedesaan atau wilayah dengan ikatan komunal kuat memiliki risiko lebih besar mengalami stigma. “Di daerah seperti itu, kehidupan sosial sangatlah kental. Menjadi berbeda adalah hal yang sulit,” jelasnya.

Rendahnya literasi kesehatan dan kuatnya norma budaya turut menjadi penghambat. Informasi medis yang benar sering kalah oleh “pengetahuan” turun-temurun yang penuh mitos dan ketakutan.

Komitmen di Tengah Tantangan

Menghadapi tantangan multidimensi ini, KPA Kota Pekanbaru berusaha memperkuat perannya. Sekretaris KPA, Ferlan Niko, dalam pernyataannya menyerukan empati dan kepedulian kolektif. “Hari ini bukan hanya tentang memperingati sebuah peristiwa, tetapi mengingatkan kita bahwa stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan besar,” serunya.

Ia menegaskan, dengan pengobatan dan dukungan tepat, ODHA dapat hidup produktif dan bermartabat.

Anggota Logistik KPA, Fajri Tanjung, juga menekankan pentingnya peran seluruh stakeholder dan lapisan masyarakat dalam tindakan preventif. KPA bertekad menjadi pusat informasi, koordinasi, dan advokasi yang andal.

“Kita selalu berkomitmen dalam melindungi, mengayomi dan menjadi salah satu garda terdepan dalam menyelesaikan kasus HIV dan Aids di Pekanbaru ini,” ujarnya.

Data epidemiologi menunjukkan betapa gentingnya situasi. Kasus HIV di Pekanbaru naik dari 408 kasus (2023) menjadi 474 kasus (2024). Kasus AIDS juga meningkat dari 165 menjadi 174 pada periode yang sama. Mayoritas penderita adalah laki-laki usia produktif (25-49 tahun) yang bekerja sebagai swasta atau wiraswasta.

Jalan menuju Pekanbaru Bebas HIV/AIDS masih panjang dan terjal. Pertempuran tidak hanya terjadi di laboratorium dan klinik, tetapi lebih krusial, di ruang tamu keluarga, di tempat kerja, di tempat ibadah, dan di dalam benak setiap warga. Melawan virus mungkin bisa dengan obat, tetapi melawan stigma memerlukan revolusi pola pikir, kejujuran dalam edukasi, dan yang terpenting, keberanian untuk menggantikan ketakutan dengan kasih sayang. ***

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *