banner 728x250 banner 728x250

Jadi Pengawas PETI, Oknum Wartawan Berinisial Jekha Terseret Jaringan Tambang Ilegal di Kuansing

banner 120x600

Kuantan Singingi — Maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kian memantik kemarahan publik. Di tengah sorotan tajam terhadap lemahnya penegakan hukum, mencuat dugaan serius keterlibatan seorang oknum wartawan berinisial Jekha yang disebut-sebut berperan sebagai pengawas lapangan dan membackup aktivitas atau kegiatan PETI di sejumlah lokasi PETI ilegal.

 

Nama Jekha sebelumnya mencuat dalam pemberitaan berjudul “Dua Alat Berat PETI di Pulau Padang Kembali Disorot, Negara Jangan Kalah oleh Mafia Tambang Ilegal”. Informasi lanjutan yang dihimpun dari berbagai sumber kredibel serta sejumlah wartawan lokal mengungkap bahwa Jekha tidak hanya melakukan peliputan, melainkan diduga aktif memantau dan mengamankan operasional PETI di beberapa titik rawan di Kuansing.

 

Peran tersebut dinilai telah melampaui batas fungsi jurnalistik dan berpotensi kuat menjadi bagian dari mata rantai yang melanggengkan praktik tambang ilegal. Dugaan ini semakin menguat lantaran aktivitas PETI di lokasi-lokasi yang disebut tetap beroperasi tanpa hambatan berarti.

 

Masyarakat Kuansing menilai, jika dugaan ini benar, maka keterlibatan oknum wartawan dalam pusaran PETI merupakan pengkhianatan terhadap marwah profesi pers, yang sejatinya berfungsi sebagai pilar kontrol sosial, bukan justru menjadi tameng atau alat legitimasi praktik melanggar hukum.

 

“Kalau benar wartawan malah jadi pengawas PETI, ini sudah keterlaluan. Siapa lagi yang bisa kami percaya?” ujar seorang tokoh masyarakat Kuansing dengan nada geram.

 

Keberlangsungan aktivitas PETI yang berlangsung terang-terangan di berbagai wilayah Kuansing turut memunculkan dugaan pembiaran sistematis. Publik mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum, mengingat dampak PETI tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan warga dan memicu konflik sosial.

 

Hingga berita ini diterbitkan, Jekha belum memberikan klarifikasi atas dugaan keterlibatannya. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.

 

Dari hasil pantauan di lapangan tim Redaksi Sementara itu sebelumnya pada kejadian intimidasi dan Penghalangan Tugas Jurnalistik yang Meliput di beberapa titik rawan lokasi Aktivitas PETI di Desa Logas, yang masih kecamatan Singingi. Kejadian 1 Desember 2025.

Hingga kejadian itu telah di laporkan ke Polres Kuansing sejak tanggal 2 Desember 2025, namun hingga saat ini Minggu 1 Pebruari 2026 belum kunjung titik terang.

 

Dalam kejadian itu termasuk Jekha diduga yang merampas handphone korban dan menanyakan identitas, KTA, serta surat tugas. Setelah ditunjukkan, dua orang lainnya mencoba melakukan pemukulan, namun tidak mengenai korban karena ditahan dengan helm. Pemicu peristiwa itu karena aktivitas PETI, itu saja belum kunjung titik terang, baik aktivitas PETI maupun laporan di Polres Kuansing.

 

Dan kini mencuat lagi nama sosok Jekha wartawan mengenai kegiatan aktivitas PETI yang menggunakan alat berat tersebut yang beroperasi di pulau Padang, kelurahan muara lembu, masih kecamatan Singingi.

Siap sosok Jekha selaku wartawan??

Diketahui juga Jekha merupakan direktur dari salah satu media online riaupro.com Yang merupakan salah satu media lokal di kabupaten Kuansing.

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum serta organisasi profesi pers untuk segera turun tangan, mengusut tuntas dugaan keterlibatan oknum wartawan, dan menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam jaringan PETI—baik pelaku lapangan, pemodal, maupun pihak yang berlindung di balik profesi tertentu.

 

Warga Kuantan Singingi menegaskan, penegakan hukum tidak boleh tebang pilih. Negara tidak boleh kalah oleh mafia tambang ilegal.

Tim Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *