PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau, melalui perusahaan daerah PT Riau Pangan Bertuah, mendatangkan pasokan cabai dari sentra produksi di Jawa untuk menstabilkan harga yang melonjak di pasar setempat. Kenaikan harga terjadi karena pasokan dari daerah penyangga, seperti Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara, terganggu akibat bencana.
Direktur PT Riau Pangan Bertuah, Ade Putra Daulay, menjelaskan, lonjakan harga hingga Rp 150.000 per kilogram terjadi pada Jumat dan Sabtu lalu karena distribusi terhambat dan stok di Pekanbaru menipis. Namun, harga langsung merosot menjadi Rp 60.000 per kilogram pada Minggu setelah tujuh truk pasokan tiba secara serentak membanjiri pasar, menunjukkan hukum penawaran dan permintaan bekerja cepat.
“Ketika barangnya sedikit, harga naik. Tapi ketika supply berlebih dan barang tidak bisa ditahan, mau tidak mau dijual murah,” kata Ade kepada GoRiau.com, Senin (1/12/2025).
Harga pada Senin dilaporkan berkisar Rp 65.000 per kilogram di tingkat grosir dan Rp 70.000-Rp 75.000 di pengecer. Meski lebih stabil dibanding akhir pekan, harga dinilai masih tinggi.
Untuk mengantisipasi gejolak, PT Riau Pangan Bertuah mengambil langkah intervensi dengan mendatangkan cabai dari Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) di Sleman, Yogyakarta. Pasokan pertama sebanyak satu ton telah dikirim Senin malam dan diperkirakan tiba di Pekanbaru pada Selasa malam atau Rabu dini hari.
“Kita dapat harga di Sleman, plus ongkos kirim sampai Pekanbaru, di angka Rp 55.000 per kilogram. Dengan margin Rp 3.000, kita bisa jual di bawah Rp 60.000,” ujar Ade.
Pasokan tersebut akan didistribusikan melalui operasi pasar murah dan disalurkan kepada pedagang di pasar. Perusahaan juga berencana mengirim satu ton tambahan pada Selasa malam untuk menjaga kontinuitas pasokan.
Ade menyatakan, penandatangan cabai dari luar akan terus dilakukan selama harga di Pekanbaru masih di atas Rp 60.000 per kilogram. Langkah ini memiliki dua tujuan, yaitu public service untuk menstabilkan harga dan aspek bisnis jika harga di sumber lebih murah.
Biaya transportasi pengiriman pertama ini disebutkan akan ditanggung oleh Bank Indonesia. Distribusi nantinya akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pedagang pasar dan Koperasi Merah Putih. Tidak tertutup kemungkinan sebagian pasokan juga akan disalurkan ke Pasar Induk untuk menekan harga di tingkat grosir.
Kebijakan intervensi pasar ini diharapkan dapat meredam volatilitas harga cabai di Pekanbaru dalam beberapa hari ke depan, sekaligus mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari daerah penyangga yang masih terdampak bencana.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Riau Taufiq OH mengatakan saat ini sudah berkoordinasi dengan daerah penghasil cabai di pulau Jawa seperti dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk dapat mengirimkan stok cabai merah ke Riau.
“Saat ini kami sedang terus berkoordinasi dengan daerah penghasil cabai seperti dari Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk dapat mengirim cabai merah ke Riau,” sebutnya.
Pihaknya berharap dengan upaya yang dilakukan tersebut, dapat menekan harga cabai merah di Riau yang saat ini mengalami kenaikan. Selain berusaha menekan harga, pihaknya juga terus berusaha menjamin agar ketersediaan bahan pokok lainnya juga tersedia.
“Selain agar harganya kembali stabil, kami juga berupaya agar ketersediaan bahan pokok di Riau seperti cabai merah tetap terjaga,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk bijak dalam berbelanja.
Tidak perlu membeli bahan pokok dengan cara berlebihan karena pemerintah akan terus berupaya menjaga ketersediaan bahan pokok tersebut. “Dan kami himbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan atau membeli bahan pokok,” imbaunya. ***
















