banner 728x250 banner 728x250

Dari UNESCO ke Australia: Babak Baru Internasionalisasi Bahasa Indonesia

banner 120x600

CANBERRA – Upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia memasuki babak penting di penghujung 2025. Setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mencatat sejarah dengan menyampaikan pidato resmi berbahasa Indonesia di Sidang Umum UNESCO ke-43 di Samarkand, Uzbekistan, November lalu, pesan yang sama kembali digaungkan di Canberra, Australia.

Kali ini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq membawa tongkat estafet diplomasi bahasa itu ke The First Australian Congress for Indonesian Language 2025 yang digelar di Australian National University (ANU), Sabtu (6/12/2025). Momen ini memperlihatkan konsistensi Indonesia dalam menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bagian dari diplomasi pendidikan, budaya, dan kepemimpinan regional di kawasan Indo-Pasifik.

banner 468x60

Pentingnya penguatan bahasa Indonesia di tingkat global, Dalam forum yang diadakan di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wamen Fajar menegaskan urgensi pembudayaan Bahasa Indonesia di tingkat regional dan global.

Menurutnya, penguatan bahasa semakin penting seiring meningkatnya posisi strategis Indonesia dan Australia dalam dinamika Indo-Pasifik. Indonesia dan Australia, ungkap Fajar, bukan hanya memiliki kedekatan geografis dan hubungan diplomatik, tetapi juga peran signifikan dalam peta ekonomi masa depan.

Kekayaan mineral strategis, yang menopang transisi energi dan industri berkelanjutan, menjadikan kedua negara pemain kunci dalam rantai pasok global. Di atas fondasi geoekonomi inilah, bahasa dan pendidikan menjadi jembatan bagi kemitraan jangka panjang. “Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

Fajar, yang merupakan salah satu alumni Australia Indonesia Muslim Exchange (AIMEP) 2005, menambahkan bahwa kehadirannya di kongres tersebut adalah kesinambungan dari langkah strategis pemerintah dalam menginternasionalkan Bahasa Indonesia. Rangkaian inisiatif ini menguatkan pijakan yang sebelumnya sudah ditetapkan melalui panggung UNESCO.

Ia menilai, pidato Abdul Mu’ti di UNESCO bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi juga penanda pengakuan global terhadap Bahasa Indonesia. “Kehadiran kami di forum-forum internasional, termasuk di Australia hari ini, adalah kelanjutan dan penguatan dari pesan Indonesia di panggung global,” imbuhnya.

Kongres pertama Bahasa Indonesia di Australia ini dihadiri pemangku kepentingan bahasa dari kedua negara. Sesi pembukaan menghadirkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono; Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa Kemendikdasmen, Iwa Lukmana; serta Chair of Australian Indonesia Institute, Lydia Santoso.

Forum ini juga diwarnai panel diskusi lintas negara dengan menghadirkan George Quinn (ANU), Helvy Tiana Rosa (Penulis dan Akademisi UNJ), Joel Backwell (Public Policy and Governance Adviser Australia–Indonesia), serta Mei Turnip, pengajar Bahasa Indonesia. Selain itu, focus group discussion turut melibatkan Balai Bahasa Indonesia, Balai Bahasa dan Budaya Indonesia, serta asosiasi guru Bahasa Indonesia dari berbagai negara bagian dan teritori Australia.

Di akhir sambutannya, Wamen Fajar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berperan dalam penyelenggaraan kongres ini. “Ini adalah sejarah dan momentum penting untuk terus memperkuat ekosistem dan pembudayaan Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global,” tutupnya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *